Apakah AI bisa melindungi kita dari hoax?


hoax

Kita hidup dalam sebuah era di mana banyak informasi berseliweran dan mudah didapat. Kemajuan teknologi memungkinkan kita untuk dengan cepat mengetahui kabar dari peristiwa yang terjadi di daerah nun jauh di sana, bahkan dari luar negeri.

Teknologi internet seperti peramban Google dan Yahoo!, media sosial yang kemudian berkembang, seperti Twitter, Instagram, dan Facebook, serta aplikasi berbagi pesan singkat seperti WhatsApp dan Telegram, membuat penyebaran informasi semakin mudah dan cepat.

Namun, teknologi tersebut bisa dibilang bagaikan pedang bermata dua. Pada satu sisi ia membuat kita menjadi kaya dengan pengetahuan berguna, tetapi ia juga bisa menyesatkan dengan informasi palsu, atau hoax.

Saat ini, selain yang sengaja dibuat manusia, menurut  Mashable  sebagian hoax juga ada yang disebarkan oleh teknologi. Sebut saja bot yang secara otomatis membuat berita utama dari akun-akun palsu.

Massalnya penyebaran hoax saat ini kerap membuat kejelasan fakta menjadi buram. Sesuatu yang benar-benar terjadi bisa malah tidak dipercayai karena opini lebih kuat terbentuk berdasarkan faktor emosional daripada logika dan fakta. Sebab itulah era ini disebut sebagai  post-truth  (pasca-kebenaran).

Kita juga semakin kesulitan untuk mengedepankan fakta yang benar di antara serbuan propaganda, misinformasi, dan berita palsu.

Misalnya saja kasus yang baru menimpa Facebook. Dilansir dari  CNN Indonesia, bos Facebook Mark Zuckerberg membantah keras tuduhan yang menyebutkan keterlibatan sistem algoritma Facebook yang mendorong pemberitaan hoax untuk menguntungkan Donald Trump selama masa kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat.

Algoritma Facebook tersebut juga dianggap telah mengarahkan para pengguna untuk mengonsumsi berita-berita palsu sejenis secara terus-menerus. Sehingga para pengguna menjadi terisolasi untuk mengakses keragaman konten lain sebagai penyeimbang.

Laporan dari  Pew Research Center  tahun lalu menunjukkan bahwa dua pertiga orang dewasa di Amerika Serikat mendapatkan berita dari media sosial, yang justru merupakan sumber hoax nan melimpah.

Situs  Popular Science  juga mengabarkan, para pengamat politik dari Princeton University, Dartmouth College, dan University of Exeter telah melaporkan bahwa 1 dari 4 orang Amerika telah mengunjungi situs berita palsu selama tahun 2016. Kebanyakan dari mereka masuk melalui Facebook.

Saat para cendekiawan, pendukung, bahkan pemerintah melemparkan informasi untuk mengeksploitasi perbedaan regional, gender, dan etnis kita, sementara perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Facebook, Google, dan Twitter ditekan untuk menahan masuk berita-berita tersebut.

Algoritma dan AI telah disebarkan untuk memeriksa fakta berita digital oleh  startup  dan perusahaan-perusahaan besar.

“Pada masa yang lalu, ada media berita yang menyaring hal-hal yang tidak akurat dan gila,” kata Bill Adair, seorang profesor jurnalistik di Duke University yang mengepalai usaha seperti itu, Duke Tech & Check Cooperative. “Tetapi sekarang tidak ada filter. Para konsumen membutuhkan alat untuk dapat mengetahui mana yang akurat dan yang tidak.”

Andrew Heyward dari laboratorium Mit’s Media dan mantan direktur CBS News, mengatakan kepada  Insider.co.uk  bahwa kecerdasan buatan dapat membantu untuk mengatasi masalah para praktisi hubungan masyarakat.

Heyward dan rekan-rekannya di laboratorium media di Cambridge, Massachusetts, sedang mempelajari apa yang dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan untuk mengatasi masalah media di masa modern ini, termasuk berita palsu, ketidakpercayaan masyarakat terhadap jurnalistik dan rentang perhatian yang pendek.

Kelompok Heyward ini menggunakan algoritma pembelajaran mesin sebagai alat utama untuk melacak status tanggapan masyarakat secara keseluruhan. Tujuannya adalah agar para praktisi hubungan masyarakat dapat membuat keputusan yang baik dengan menggunakan wawasan tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Zuckerberg menyatakan bahwa perusahaannya akan mengembangkan deteksi yang canggih melalui sistem teknik Facebook. Upaya tersebut meliputi penggunaan AI dan program pembelajaran mesin (machine learning) yang disebut  Trust Project.

Trust Project nantinya akan menyaring berita dan diurutkan berdasarkan tingkat akurasi, konsistensi dan reputasi, serta perspektif yang beragam. Banyak perusahaan serta kelompok lain yang membangun sistem serupa.

Cathy O’Neil, penulis  Weapons of Math Destruction: How Big Data Increases Inequality and Threatens Democracy  bukan seorang yang optimistis pada kecerdasan buatan.

Menurutnya, konsep algoritma pengecekan fakta, setidaknya ketika pertama kali dilemparkan, adalah untuk membandingkan sebuah pernyataan dengan apa yang diketahui sebagai fakta.

“Namun karena tidak ada model algoritmik buatan untuk kebenaran, hal tersebut tidak akan berhasil,” katanya.

Artinya, para ahli komputer harus membangun pasukan pemeriksa fakta secara virtual. Apa model kebenaran mereka, seberapa dekat kita dapat mempercayakan algoritma untuk menyisihkan berita palsu? Bagaimana mesin dapat mengenali sarkasme, konteks dan nuansa suatu berita?

Chengkai Li, pakar ilmu komputer dari University of Texas dan ketua peneliti untuk  ClaimBuster–satu-satunya alat pengecekan fakta AI yang tersedia untuk umum–mengklaim bahwa sistem yang dibangunnya pada 2014 itu telah berhasil mengidentifikasi klaim, atau kalimat yang dinyatakan sebagai kebenaran dalam berita atau pidato politik.

Keberhasilan identifikasi tersebut karena mereka bisa mengajarkan sistem algoritma yang mereka ciptakan untuk memilah mana yang merupakan kebenaran dan mana yang bukan, dengan memberikan banyak kalimat.

Artinya, tim ahli komputer tersebut mengajari komputer untuk membandingkan pernyataan untuk menentukan apa yang disebut fakta. Algoritma tidak memiliki fitur alami untuk mengidentifikasi fakta, manusialah yang harus menyediakannya.

Manusia harus membangun apa yang disebut dengan database kebenaran yang mengandung informasi berkualitas tinggi dan berdaya jangkau luas. Tim yang dipimpin Li menggunakan ribuan fakta yang berasal dari artikel dan blog yang ditulis oleh pemeriksa fakta dan jurnalis profesional.

Hal itu dimaksudkan untuk mengoreksi catatan pada klaim yang meragukan.

Sementara ini, ClaimBuster memang berhasil mengatasi berita politik palsu, namun masih harus berusaha keras untuk mengidentifikasi berita iptek palsu, termasuk berita tentang perubahan iklim.

SOURCE